Tuesday, March 3, 2009

MASA PALING INDAH, MASA DI SEKOLAH

Ya ALLAH, tiada kemudahan selain yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau dapat menjadikan kesulitan menjadi mudah jika Engau menghendaki (HR. Ibnu Hibban)

Kenangan bersama sembilan sahabat di SMA :

Pertama kali menginjak halaman SMA III Setiabudi saya berduaan ngobrol dengan murid baru lainnya yakni Hendra Himendra. Saya yang baru datang dari Bangka, masih kental dengan logat seberang, sedangkan si Dul atau Dulloh, demikian kami memanggilnya, yang baru datang dari Ciamis bicara dengan lidah Sunda medog. Si Dul memang jadi teman baik sekelas dan anggota tim basket, sekarang mantan Rektor UNPAD.
Tapi sahabat saya yang akrab adalah anggota grup studi yang lintas jurusan, ada yang dari Pasti-Alam dan ada yang Kimia-Hayat. Kami semuanya bersembilan, lima cowok dan empat ceweknya. Yang cowok adalah saya sendiri, Djoko, Guntur, Kahar dan Eman, sedangkan yang cewek adalah Teti, Tati, Tita dan Sita. Selain grup belajar, saya, Guntur, Eman dan Teti tinggal di daerah seputar Taman Tangkubanperahu, sehingga setiap pagi kami jalan kaki menuju Setiabudi melewati bioskop Gembira dan menembus kampung yang sekarang jadi jalan Rasuna Said. Djoko, Kahar dan Sita tinggal di Kebayoran Baru, sedangkan Tati dan Tita di daerah Menteng. Untuk lokasi belajar kami pindah-pindah tempat, kadangkala di jalan Falatehan rumah Djoko atau jalan Bonang rumah Tati. Yang jelas saya selalu wajib dijemput karena sayalah yang bertindak sebagai mentor untuk membimbing kawan-kawan ini menyiapkan PR, ulangan atau ujian. Sebagai imbalannya, saya suka diajak jajan mie pangsit jalan Nusantara III atau jalan Sabang. Djoko yang sering traktir karena dia yang paling binnen, punya uang dan mobil Peugeot.
Masing-masing kami mempunyai pembawaan yang berbeda, tetapi pertemanan kami selalu langgeng. Eman yang kami panggil Paspartu orangnya Padang kocak, selalu tertawa berderai. Guntur yang Batak adalah pianis klasik yang handal, penganut Advent yang kalau malam Minggu getol dansa karena sudah bebas Sabbath. Djoko, yang paling kalem sebenarnya ahli jujitsu, yang sayang karena kecelakaan menjadi pemalu. Kahar adalah yang tertua, paling kocak tetapi juga preman Kebayoran yang ditakuti. Teti tercatat sebagai “ikan duyung” sekolah kami dengan potongan tubuh aduhai. Tati, kakaknya bung Subronto Laras, anak pak Murdono wasit sepakbola waktu itu, bintang olahraga dan dansa. Tita sebagai gadis ramping berpenampilan India yang maut rayuannya, sedangkan Sita adalah penari Jawa yang lemah gemulai dan ayu dengan rambut panjang tergerai sampai ke kaki.
Sayang, dari sembilan orang ini, sekarang kami tinggal berenam. Eman sudah pergi paling dulu, demikian pula tak dinyana Sita dipanggil Ilahi baru-baru ini, dan tak lama kemudian disusul oleh Kahar. Tati dan Teti menjadi contoh obesitas sejati, sehingga tak terlihat lagi kemolekan yang dulu. Tita tetap ceriwis seperti sediakala, jauh dari obesitas dan malahan menjadi semakin langsing. Kasihan Djoko, dia terserang stroke dan lumpuh di kursi roda, sedangkan Guntur masih tetap maestro di depan piano. Untunglah tiga bulan sekali kami ada reuni ex SMA Teladan, sehingga masih dapat bertemu dan berbagi pengalaman yang dulu kami toreh bersama, sambil mengingat para sohib yang sudah tiada. Ironisnya, karena umumnya kita sudah usia senja dan ranum dipetik, dalam setiap pertemuan selalu ada kawan yang meninggalkan kita. Who’s next ?

Pergaulan akrab dengan tujuh sohib Elektro ITB :

Semasa kuliah di Elektro ITB, saya menjalin hubungan dengan teman satu grup belajar juga. Tiga orang eks SMA Teladan, yakni saya sendiri, Rubianto dan Parlaungan Siregar. Seorang dari SMA Budi Utomo Jakarta yakni Eddy Pardede, sedangkan lainnya dari Jabar yakni Kun Kunradt, Kun Gardjito (Kunce), dan Maryono Wirkus (Manneke). Yang terakhir bergabung, paling tua dan dari angkatan tua pula adalah Iwan Zoehra, orang Banten.
Selain belajar bersama, kecuali Iwan, kami bertujuh menjadi anggota Batalyon I Menwa Mahawarman. Juga kami berdelapan adalah anggota PMB dengan angkatan yang berbeda-beda. Beberapa diantara kami juga tergabung dalam drum band ITB, disamping bermain tennis yang merupakan olahraga elit waktu itu. Kami pun termasuk dalam barisan mahasiswa yang melakukan long-march ke Bogor dalam upaya meruntuhkan Orde Lama. Grup kami juga selalu kompak dalam menghadiri pesta-pesta mahasiswa, baik dalam pinjam meminjam jas maupun penyediaan alat transportasi. Sedangkan untuk belajar bersama, tempat yang dipakai lazimnya rumah Iwan di Kiai Gede Utama atau rumah Manneke di jalan Trunojoyo. Berbeda dengan posisi waktu di SMA, selama dalam grup belajar saya tidak bertindak sebagai mentor tetapi sebagai peserta biasa karena tingkat penguasaan ilmu kami agak merata. Walaupun pasti ada juga beberapa orang yang dibawah rata-rata.
Sayang pertemanan ini agak buyar waktu Orde Lama tumbang. Sebagian teman kebablasan dengan kosongnya kuliah dan banyak menghabiskan waktu dengan bermain tennis, bridge dan latihan bela-diri. Saya sendiri hijrah ke Jakarta untuk kerja praktek di IBM. Walaupun belajar bersama, tetapi lulusnya nasib masing-masing. Yang selesai paling dulu tentu bisa ditebak, sedangkan yang lulus terakhir ialah Kunce. Sedih sekali, kini kami hanya tinggal bertiga karena lima teman sudah pergi duluan. Yang pertama pergi ialah Eddy yang meninggal karena kecelakaan, disusul oleh Kunce yang sakit kanker lambung. Iwan meninggal mendadak sewaktu melatih penyembuhan spiritual Pandawa Lima, disusul oleh Manneke akibat kanker. Dan terakhir saya dengar bahwa Parlaungan meninggal beberapa bulan yang lalu. Tinggal saya dan Rubi yang masih sering berkomunikasi dan berdendang lagu bersama. Rubi pernah dua kali dioperasi lambungnya, alhamdulillah still going strong. Tetapi saya kehilangan kontak dengan Kunradt. Mudah-mudahan kawan yang satu ini masih dalam kondisi badan yang sehat walafiat dan iman yang kuat.

Suka-duka dengan kelompok studi Extension Ekonomi UI :

Walaupun Qoyum, Rohali dan Surghani yang ngajak masuk Extension FE-UI, karena beda kelas maka saya membentuk grup belajar sendiri. Kali ini kami berlima, saya sendiri, Kumhal, Aidil, Sahrul, dan Markoni. Semuanya orang Barat, saya dari Bangka Barat sedangkan keempat teman lainnya dari Sumatera Barat. Kumhal tamatan Jerman gaya bicaranya khas meyakinkan, Aidil yang jebolan ITB Elektro, angkatan lebih tua dari pada saya, berotak encer yang hemat berbagi ilmu. Sahrul yang paling rajin datang kuliah untuk menandatangani daftar hadir jika kami bolos, dan Markoni yang bicaranya berbelit-belit, maklum anggota DPR.
Kalau mau dibuat tanda jasa, rasanya dari kami berlima yang berhak adalah pak Sahrul. Pensiunan perwira ALRI ini menjadi tukang catat bahan kuliah yang cekatan, tulisan rapi dan siap kami terima fotokopinya. Sahrul juga yang rajin menghimpun soal-soal ujian lalu, yang kemudian setelah digandakan dan dijilid rapi malah menjadi barang dagangan yang dicari-cari oleh teman mahasiswa lainnya. Dasar orang Padang, apapun bisa jadi duit, salut deh.
Kalau soal otak, mungkin yang menonjol, maaf, ya kami berdua ex ITB Elektro, saya dan Aidil. Pada waktu itu Prof. Billy Judono, mantan Ketua BEPEKA kita, yang pegang mata kuliah Teori Organisasi, merupakan salah satu “killer”. Angka re, mi, fa, kadang-kadang sekali sol, menjadi langganan nilai ujian mahasiswa yang ikut mata kuliahnya. Tapi kami berdua yang memecahkan tradisi, saya dapat angka 8 dan Aidil angka 9. Kiatnya? Pahami pertanyaannya, kaji logikanya, lugas jawabannya pakai kalimat sependek mungkin, dan tentu harus benar. Saya tak punya banyak kenangan tentang pak Markoni. Yang paling terkesan adalah jawabannya jika kita menanyakan sesuatu hal kepadanya. Klasik sekali : “Ba ‘a ko, ado di buku !”.
Karena kami umumnya sudah bekerja, dan waktu itu berpenghasilan cukup, kami membawa hal baru dalam proses belajar mengajar. Jika biasanya presentasi paper menggunakan flip-chart, kami datang dengan OHP yang masih barang langka. Mahasiswa lain protes karena bikin transparansi saja seribu per lembarnya. Demikian pula hand-held calculator kami gunakan pada saat sekolah masih memakai mesin register kuno. Pernah dalam ujian Analisa Kuantitatif, dengan bantuan kalkultor dalam setengah jam saya sudah rampung menghitung, tinggal menulis rapi saja. Tiba-tiba masuk petugas ujian membacakan pengumuman bahwa untuk ujian ini dilarang pakai kalkulator tangan. Ya tidak jadi masalah, wong saya sudah selesai ngitung.
Selesai sekolah pertemanan kami berlanjut dalam pekerjaan. Sahrul sempat menjadi manajer di perusahaan software saya, Kumhal yang mengajak saya masuk Setneg dan kami pernah sama-sama menjadi Asmenko pak Hartarto yang Menko PRODIS. Sahrul sudah lama meninggal dan Markoni sudah tak pernah bertemu dan dengar kabarnya. Saya dan pak Kumhal untuk waktu yang panjang menjadi lawan-tanding tennis dan dulu jadi mitra tarik suara di karaoke. Kini, kami bertiga, saya, Kumhal dan Aidil sering bertemu sebagai anggota klub De Seniors di Senayan. Dan Aidil baru saja menyelesaikan program doktor di IPB, selamat bung !

Keakraban sesama peserta program MM UI :

Program MM-UI angkatan I mencakup dua jurusan, Manajemen Akuntansi dan Manajemen Keuangan Internasional. Jika di Akuntansi masih ada beberapa mahasiswinya maka di Keuangan Internasional gersang betul, laki-laki semua kecuali satu yang sudah dianggap sebagai cowok saja. Ditambah lagi sebagian besar mahasiswanya adalah pejabat atau pengusaha yang sudah banyak makan garam, kelas kami merupakan “kawah Candradimuka” bagi sebagian dosen pengajar. Guyon yang khas lelaki, pertanyaan yang pelik serta tanggapan yang sangar, merupakan keseharian dalam kelas kita.
Sayangnya, padatnya agenda sekolah menyebabkan kegiatan sosial kita kurang waktu. Memang terbentuk suatu grup studi, tetapi agak longgar ikatannya kecuali untuk beberapa orang tertentu. Sebut saja pak Setiohari, dulu kolega di Elnusa dan boss di Parapat & Associates, pak Secakusuma, boss Pembangunan Jaya yang pakai H di depan nama tetapi bukan haji melainkan Hiskak, atau Indrajit yang pernah dekan FT-UI. Juga ada Rudy yang manajer Garuda Maintenance Facilities, tidak sampai selesai kuliahnya dan lanjut ke Amrik, dan Nyoto, tamatan Singapura yang direktur South East Asia Bank. Nama lain yang patut saya ungkap ialah Arief, jenius jebolan Kimia Teknik ITB yang sigap dalam menyelesaikan soal hitung-menghitung. Selain masing-masing punya kantor yang representatif untuk tempat studi, jika ada tugas paper maka kami ngumpul akhir Minggu di Putri Duyung Cottage, tentu saja “on Seca”.
Walaupun sudah rada berumur, tingkah laku sebagai mahasiswa masih melekat. Sorakan meledak jika ada dosen berhalangan dan kami boleh pulang cepat. Demikian pula rebutan antrian makan malam, pilih posisi strategis dalam ujian, merupakan tingkah yang menggelikan kalau diingat kembali.
Setelah lulus hampir bersamaan karena sistem yang terstrukktur, praktis kami hanya kumpul kembali kalau ada acara reuni MM. Kesibukan masing-masing memisahkan kami, komunikasi dengan sms tentu saja kadang terjadi. Ada berita tentang Rudy yang kurang sukses dengan Indonesian Airlines, SEAB tempat Nyoto yang bubar, ada pula yang tersangkut skandal BNI. Sedih saya baru-baru ini mendengar bahwa Indradjit telah pergi, masih terbayang canda-gurau saat masih kuliah dulu. Hanya Setiohari yang masih bareng nyanyi sekali-sekali di De Seniors dan pak Seca yang kirim sms, just to say hello. Untuk menghilangkan rindu, sekali-sekali saya singgah di gedung MM. Memang tak ada lagi yang dikenal dan mengenal, kecuali Mini staf Administrasi Kemahasiswaan yang tubuhnya masih tetap maxi itu.

Pertemanan dalam kelompok belajar MH UNPAD :

Angkatan II “kelas jarak-jauh” program studi Magister Hukum UNPAD yang berlokasi di gedung Bumi Daya lantai II dibagi atas dua kelas A dan B. Entah berdasarkan kriteria apa, saya masuk kelas B yang menghimpun sekitar 30-an mahasiswa dan mahasiswi. Karena faktor umur maka secara aklamasi saya diangkat mejadi ketua kelas, sedangkan untuk sekretaris diangkat bu notaris, yang saya lupa namanya. Baik kelas A maupun B mayoritas berisi penyandang disiplin ilmu hukum, sebagian malahan pengacara terkenal seperti Elsa Syarif yang pembela perkara Tommy Soeharto, atau teman saya Rufinus Hutauruk yang ngantor di bilangan Kuningan.
Karena kajian hukum selalu bersifat normatif, grup terbentuk bukan karena perlu adanya pembahasan kelompok tetapi lebih dikaitkan dengan pembagian beban kerja penyelesaian paper. Sebagai ketua kelas saya memang mempunyai sedikit kewenangan untuk menentukan grup. Tetapi dalam hal tertentu dosen sendiri yang menetapkan anggota kelompok. Walaupun tak ada grup yang tetap, tetapi kami mempunyai grup teman yang lebih dekat satu sama lainnya. Kita saling kunjungi kantor, baik untuk bursa penulisan tugas paper, atau sekedar ngobrol santai. Sampai sekarang kami masih memelihara silaturahmi dengan makan siang bersama di resto Hotpot jl. Sabang. Setidaknya tiga bulan sekali ritau silaturahmi ini kami lakukan, tetapi dengan jumlah yang hadir semaikin menipis. Bukan karena sudah almarhum, namun karena lokasi tugas yang sudah bertebaran.

Monday, March 2, 2009

DUKUN SEKALI PUN, BOLEH SAKIT DONG !

Ya ALLAH, berilah keselamatan pada badanku. Ya ALLAH berilah keselamatan pada pendengaranku. Ya ALLAH, berilah keselamatan pada penglihatanku. Ya ALLAH, aku berlindung kepada-MU dari kekufuran dan kefakiran (HR. Abu Daud)

Siapa sih didunia ini yang tak pernah sakit? Kalau para Nabi pun masih bisa sakit, apalagi kita sebagai manusia biasa. Ada penyakit keturunan, dari DNA sononya, ada penyakit bawaan lahir, ada penyakit kena tulah, dan ada pula penyakit masyarakat. Bagi kami penghusada spiritual, penyakit dapat dipilah jadi tiga golongan, sebagai akibat dari ulah perbuatan kita pada masa lalu ; sebagai suatu cobaan Ilahi untuk ujian naik derajat ; dan sebagai pembenaran untuk menjemput maut.
Banyak penyakit yang justeru berasal dari ulah kita sendiri, yang kurang jaga kesehatan, melakukan hal-hal yang mengundang penyakit untuk hinggap, atau perbuatan yang melemahkan daya tahan dan tangkal tubuh. Sebagaimana halnya setiap naik kelas kita perlu diuji dulu, ada penyakit yang sengaja dititipkan oleh Yang Maha Kuasa untuk menguji kita apakah sudah layak dinaikkan martabatnya. Sedangkan golongan ketiga adalah supaya terjadi hubungan kausal antara penyakit dengan kematian seseorang, kecuali kita mati kecelakaan ditubruk mobil atau ditimpa roket. Untuk kedua golongan penyakit yang di atas, kami para penghusada berupaya membantu penyembuhan karena hanya ALLAH yang kuasa menyembuhkan. Sedangkan untuk golongan yang ketiga, bantuan kami justeru untuk memudahkan yang bersangkutan segera wassalam dengan tenang menghadap ke Sang Pencipta.
Semasa kecil rasanya saya tidak pernah punya sejarah mengidap penyakit berat. Kalau penyakit “anak kampung” seperti cacingan, malaria tropikana maupun tersiana, campak dan diare, tentu bukan merupakan hal yang luar biasa. Pada waktu di SMP rasanya saya pernah diserang penyakit kuning alias hepatitis, entah A apa B, tapi yang jelas bukan hepa-C. Saya pernah dioperasi kecil di muka gara-gara infeksi jerawat yang ditowel-towel. Sampai sekarang bekas operasi tersebut masih terlihat walaupun tidak begitu kentara.
Waktu di bangku SMA, satu-satunya penyakit yang saya derita adalah kecelakaan jatuh dipagar rumah. Jatuhnya sih tidak masalah, tetapi gerak refleks saya yang menyambar kawat pagar menyebabkan telapak tangan saya terluka panjang. Dengan jahitan sebanyak 7 tempat sampai sekarang luka dan jahitan tersebut tetap membekas. Demikian pula selama kuliah S-1 di ITB selain sakit flu atau demam ringan, praktis saya tidak pernah sakit. Kalaupun ada, yakni kecelakaan waktu pertandingan basket , seperti yang sudah saya ceritakn sebelumnya. Lutut ini sampai sekarang masih bermasalah. Akibatnya posisi sholat saya pada waktu duduk antara dua sujud tidak sempurna. Sebagai “dukun” Reiki memang saya bisa mengendalikannya sehingga tidak menjadi semakin parah. Ada yang menganjurkan ke dr. Sehab, ahli bedah tulang, untuk dikerok agar sendinya mulus lagi. “Cukup dibolongin di tiga lubang kok”, penjelasan teman tersebut. Tapi mengingat biayanya tak sedikit, rasa ngeri yang tak bisa disanggah, serta umur yang sudah senja, saya urungkan niat untuk operasi lutut tersebut. Sekarang saya sedang mencoba terapi tusuk jarum, namum masih belum tuntas penyembuhannya.
Sakit yang cukup merepotkan terjadi sekitar tahun 1995. Menikmati masa cuti, saya beserta nyonya dengan tiga pasutri lainnya (Darwis, Edet dan Wiwik) membuat trip ke daratan Cina. Setelah selama dua minggu di Cina, rombongan terpisah, ada yang ke Korea, ada yang ke Hongkong dan saya sendiri meneruskan perjalanan ke Amrik. Kisahnya, sebagai Penasehat Dirut PLN bidang MIS saya mendampingi pejabat PLN menghadiri seminar ISACA Internasional di Philadelphia. Tiba-tiba pada hari kedua seminar badan saya panas tinggi dan muncul bintik-bintik merah. Demam berdarah belum lazim waktu itu, tetapi HIV/AIDS sudah merebak. Segera saya dilarikan ke RS setempat, dan diagnosanya sangat jelas : chicken pox atau cacar air ! Rupanya semasa kecil saya belum pernah terkena, sehingga tak ada kekebalan terhadap penyakit ini. Terjangkitnya pada waktu saya di Cina mengunjungi suatu objek wisata gua alam. Di situ banyak anak-anak kecil yang lucu, dengan muka gemuk dan pipi merah. Saya senang menowel-nowel anak-anak itu, dan rupanya ada yang baru kena cacar air sehingga terjangkitlah saya. Karena penyakit menular maka saya dilarang meninggalkan Amrik sampai dinyatakan sembuh. Masuk hotel pasti ditolak, tinggal di RS dianggap tak perlu, dan mau pulang kena larangan. Untungnya, kawan saya pak Kumhal menyewa apartemen di kota tersebut untuk dua anaknya bersekolah. Karena mereka sudah pernah kena cacar air maka saya diizinkan tinggal di apartemen tersebut selama berobat. Saya dikasi obat yang super keras dan mahal oleh RS, tetapi setiap hari harus kontrol. Nah, karena kasus orang berumur di atas 50 tahun yang terkena cacar air langka terjadi di Amrik maka setiap hari saya menjadi objek observasi bagi mahasiswa dan mahasiswi kedokteran. Setiap hari ganti mereka yang datang, dan saya ibarat model yang harus buka baju dan diteropong dari berbagai sudut. Luar biasa obatnya, kurang dari seminggu seluruh cacar kering dan mengelupas serta tak meninggalkan bekas sama sekali. Jadi waktu nyonya yang baru datang dari Korea dan harus berangkat lagi ke Amrik karena panggilan darurat, saya sendiri yang menjemputnya di lapangan udara.
Sakit yang hampir berakibat fatal terjadi waktu saya melaksanakan studi lapangan dalam rangka penyusunan disertasi doktor ITB. Selama 5 hari saya melakukan perjalanan non-stop ke beberapa lokasi. Pertama dari Jakarta ke Cilegon bolak-balik, terus dengan kereta api ke Surabaya dan kembali keesokan harinya. Dan malamnya langsung pergi lagi dari Jakarta ke Bandung. Dalam perjalanan ke Bandung melalui Purwakarta ini sekitar pukul 24.00 saya mampir makan di suatu resto Padang di perbukitan kebon teh. Saking laparnya saya langsung melahap makanan yang ada. Memang ada perasaan bahwa nasinya kurang enak tapi tak saya ambil peduli. Malahan supir saya yang kemudian di perjalanan bilang bahwa dia yakin nasi yang kami makan tadi sudah basi. Kondisi badan yang penat menyebabkan daya tahan tubuh ambruk, sehingga virus leluasa menyerang. Beberapa hari kemudian, sewaktu saya selesai memberikan kuliah di STIA LAN Bandung di lantai 3, badan saya mendadak panas dan lemas. Karena mahasiswa sudah lebih dulu pulang maka terpaksa menuruni tangga ke lantai dasar dengan merangkak seorang diri. Saya telpon Oceng, teman PMB saya, untuk mengantarkan saya ke klinik 24 jam di jalan Dago. Karena disangka hanya flu biasa, saya disuntik anti-biotik dan dikasi obat penurun panas. Kemudian saya didrop Oceng ke flat sewaan saya di jalan Banda. Sekali lagi penderitaan mendera karena kamar saya di lantai 3, saya harus merangkak lagi naik ke atas. Lengkap dengan baju dan sepatu saya tertidur sampai pagi dan bangun dalam keadaan menggigil. Nyonya segera dipanggil ke Bandung dan saya dibawa ke RS Advent. Observasi awal mengarah kepada demam berdarah atau typhus, tetapi menjadi tidak pasti gara-gara suntikan anti-biotik malamnya. Karena fasilitas kamar yang memadai tak tersedia maka saya dirujuk ke RS Boromeaus. Setelah dilakukan pemeriksaan laboratorium berulang kali, akhirnya dipastikan bahwa penyakitnya typhus ringan. Dapat rawatan seminggu di RS tersebut akhirnya saya disarankan pulang dan istirahat di rumah saja. Kembali ke Jakarta saya langsung periksa dan konsultasi dengan dokter di RS Puri Cinere, dengan hasil saya dinyatakan sudah sembuh tapi sebaiknya banyak istirahat. Dasar bandel, saya mulai ikut main tennis di klub Vila Cinere Mas, makan kurang diatur dan istirahat rada kurang. Persis malam hari sekitar pukul 02.00 sewaktu menyaksikan pertandingan Piala Eropa, tiba-tiba badan saya panas tinggi sekitar 40◦C dan agak hilang kesadaran. Saya langsung dibawa ke RS Puri Cinere, masuk gawat darurat dan segera diinfus. Setelah diperiksa keesokan harinya, saya divonis kena typhus berat pada stadium yang sangat berbahaya. Sebagai Direktur RS, dr. Awo, teman saya dari Bandung, demikian pula dr. Emmy Salman, teman PMB saya, berusaha optimal agar saya tidak wassalam di RS yang dipimpinnya. Obat tercanggih disuntikkan melalui pembuluh darah di lengan. Karena obat suntik tersebut tidak bisa larut meyatu dengan darah maka pembuluh darah terasa mau pecah dan sakit sekali. Pada suntikan yang ketiga saya sudah tidak kuat lagi, dan minta obat dimasukkan dengan cara lain. Akhirnya diputuskan untuk menyalurkannya lewat infus, sakitnya agak kurang tetapi penderitaannya menjadi lebih panjang. Secara guyon saya selalu cerita kepada teman-teman bahwa dua hal yang paling menyiksa selama dirawat. Pertama, waktu obat disalurkan ke dalam tubuh, dan yang kedua waktu dimandikan. “Lho, bukannya enak dimandiin perawat cantik”, sergah mereka. Masalahnya, dr. Emmy sebagai pimpinan perawat selalu menugaskan perawat yang STW untuk memandikan saya, sehingga mandi menjadi ritual yang menyiksa. Sekitar dua minggu saya dirawat dan sewaktu pulang dipesan wanti-wanti agar istirahat selama dua bulan dan jaga makanan. Kali ini saya tak berani bandel, masih terbayang sakitnya kena suntik dan sebalnya dimandikan perawat STW.
Terakhir, saya akan cerita tentang penyakit yang sampai sekarang masih saya derita : Psoriasis. Harap jangan salah ucap jadi serosis, karena yang satu ini penyakit mematikan. Sedangkan psoriasis adalah penyakit yang tidak mematikan, kecuali jika penyandangnya sedang garuk-garuk gatal tiba-tiba disambar truk. Sebagaimana halnya dengan beberapa penyakit yang belum diketahui penyebabnya seperti sel yang sehat berubah menjadi sel kanker ganas, pemicu awal psoriasis sampai sekarang masih gelap. Dikenal dalam wujud tampilan luar berupa titik atau bercak kulit yang kasar dan atau merah, kulit kepala yang berkerak, atau kuku yang rusak, psoriasis dikaitkan dengan sistem kekebalan tubuh yang berperilaku abnormal (dikenal juga sebagai “auto-imune deases”). Jika pada manusia sehat sel-sel kulit secara otomatis akan tumbuh dan berganti dalam hitungan hari, maka pada penyandang psoriasis mutasinya dalam hitungan detik. Akibatnya terjadi penebalan yang terus menerus, dan terjadilah berbagai tampak luar yang tak sedap dipandang itu. Selain penyakit ini tidak menular, tidak juga mematikan, juga tidak pantang dalam hal makanan dan minuman. Jadi kepada teman-teman, selain saya persilahkan datang menjenguk jangan lupa agar mereka bawa makanan dan minuman sebagai buah-tangan. Tiga kali saya sangat menderita sebagai akibat penyakit ini. Pertama kali waktu pertama kali saya diterapi dengan menggunakan sinar ultra-violet B (UVB). Tanpa dilakukan percobaan dini, seorang dokter spesialis penyakit ini memasukkan saya ke dalam tabung dan menyinari seluruh tubuh saya dalam beberapa minggu dengan sinar UVB ini. Rupanya saya termasuk sedikit dari orang Indonesia yang mempunyai daya serap UVB yang tinggi. Ini baru saya sadari, mengapa setiap saya main golf pada siang hari muka saya akan hitam untuk jangka waktu mingguan, sedangkan orang lain hanya bilangan hari. Akibat sinar UVB ini sekujur tubuh saya menjadi gosong. Tak itu saja, pembuluh darah di sekujur kaki menjadi pecah dan kaki membesar dan tidak bisa dibawa jalan. Hampir dua bulan saya terkapar di tempat tidur, dan upaya pemulihan dengan obat-obatan dilakukan dengan hasil yang berangsur. Tapi mengingat obat yang digunakan adalah Methotrexate atau disingkat MTX sejenis obat terapi chemo untuk anti-kanker, dapat mengakibatkan kerusakan hati dan atau ginjal, maka saya menghindar untuk penggunaan selanjutnya. Setiap hari sekitar sebaskom penuh kulit yang rontok, dan malahan telapak kaki lepas seutuhnya. Kayak ular ganti kulit saja! Setelah on & off dengan psoriasis ini, ada kabar baik tentang pengobatan yang baru yang sedang dikembangkan oleh bidang kedoktertan : suntikan Enbrel. Obat ini terbukti 100% berhasil untuk menyembuhkan penyakit arthritis (radang sendi), tapi untuk psoriasis baru terbukti 70% saja. Yang sangat mengagetkan adalah harganya yang setiap kali suntik Rp. 1.500.000,- dan diperlukan 48 kali suntik agar tuntas. Saya sempat mencoba sampai dengan 8 kali suntik, dan terpaksa berhenti. Ternyata efek sampingan obat ini menyebabkan panas tubuh naik secara drastis, sampai-sampai ditempat tidur saya harus meletakkan kantong-kantong es untuk menurunkan suhu tubuh. Rupanya saya tergolong angka statistik yang 30% alias kurang berhasil. Namun demikian, setelah pengobatan dialihkan dengan obat telan, secara berangsur psoriasis saya menghilang. Jadi tidak gagal sepenuhnya, hanya memang cukup menderita bagi badan dan dompet. Obat telan ini yang disebut Neotigason, merupan vitamin A dosisi tinggi, yang mendorong Cytokin ( hormon kekebalan tubuh ) lebih gencar.

Dibandingkan denga Enbrel, Neotigason kurang penderitaannya. Untuk waktu dua minggu pertama biasanya satu jam setelah obat ditelan maka badan menjadi panas dingin. Dengan tingkat suksesnya yang memadai, untuk beberapa waktu saya selalu menggunakan obat ini jika serangan psoriasis terjadi. Saya juga pernaha mencoba dengan hasil yang cukup memuaskan cara penyembuhan dari Dr. Connolly. Melalui akses Internet saya mencoba mendapat info tentang cara penyembuhan ini. Dengan penyembuhan versi Dr. Connolly dari Amrik ini kita dianjurkan untuk menjalankan detox atas lever secara terus menerus dengan herbal buatan sana. Ditambah dengan suplemen untu menguatkan fungsi pancreas dan kebugaran secara umum, cara ini cukup efektif untuk mengurangi kambuhnya penyakit. Masalahnya justeru dari pengadaan suplemen yang diperlukan , karena hanya dipasarkan di Amrik saja. Ada yang menganjurkan untuk mencoba terapi stem-cell yakni mencangkokkan DNA kita sendiri yang dibiakkan untuk mengganti DNA yang bermasalah tersebut. Tetapi mengingat terapi ini belum 100% well-proven, saya masih trauma dengan pengalaman pakai Enbrel. Belum lagi biayanya tidak kurang dari Rp. 250,- juta. Psoriasis sembuh, kanker ( kantong kering ) yang pasti muncul.
Dengan menyandang predikat holistic-healer, teman-teman suka bergumam kalau dengar saya sakit, apakah batuk atau sendi lutut kumat. Masak dukun masih bisa sakit sih. Yah, bagaimana lagi, dukun juga manusia, jadi lumrah jatuh sakit. Tentu ada lebihnya, yakni bisa mengurangi rasa sakit dan berangsur mencoba untuk melakukan upaya penyembuhan diri. Semoga sakit yang saya derita masih sebatas cobaan Ilahi. Amien!

TAK ADA KATA BERHENTI MENAMBAH ILMU

Ya ALLAH, sesungguhnya aku memohon kepada-MU ilmu ang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)


Selain pendidikan yang bersifat formal, saya termasuk getol mengikuti berbagai pelatihan. Pada tahun 1970-an saya pernah ikut diklat perpajakan dan memegang brevet konsulen pajak. Sayang saya tak lanjut dengan bidang ini, sehingga brevetnya jadi kadaluarsa. Demikian juga setiap Sabtu, jika lagi ada waktu luang, saya sering ikut pelatihan bidang pertanian dan peternakan di Pasar Minggu. Cara pembibitan dan penanaman hortikultura, ternak ayam buras, pelihara ikan hias dan ikan konsumsi, penggemukan sapi sampai dengan budi daya lidah buaya pernah saya ikuti. Lumayanlah, dengan uang Rp. 300.000,- kita bisa dapat ilmu, makan siang, sertifikat dan tali silaturahmi dengan kenalan baru.
Sebagai seorang praktisi Teknologi Infomasi, saya menyadari bahwa ibarat uang logam yang dua-muka, selain memberikan maslahat pastilah pemanfaatan teknologi ini mengandung mudharat dan mengundang resiko. Pentingnya pengawasan, pengendalian dan pengamanan mencuatkan profesi baru yang dikenal sebagai Auditor EDP, yang kemudian menjadi Auditor Sistem Informasi. Minat saya dalam profesi baru ini sebenarnya didorong oleh Surat Edaran dari Ditjen Pengawasan Keuangan Negara yang mewajibkan setiap BUMN yang laporan keuangannya dihasilkan dari pengolahan komputer untuk melakukan audit komputer. Kompetensi sebagai seorang auditor di seluruh dunia diakui melalui ujian sertifikasi yang diselenggarakan oleh asosiasi internasional profesi ini yakni ISACA, yang sebelumnya bernama EDPAA. Sebagai salah satu pimpinan ISACA Indonesia Chapter, saya merupakan peserta ujian sertifikasi yang pertama dan satu-satunya pada tahun 1988. Berbekal bahan bacaan dan materi seminar yang dihimpun dari berbagai sumber, saya menempuh ujian di International School di kawasan Tarogong. Ujian yang berjumlah 250 soal dan harus rampung dalam waktu 4 jam berhasil saya selesaikan dan sebulan kemudian keluarlah pengumuman dari kantor pusat ISACA : saya berhasil lulus dan berhak menyandang predikat Certified Information Systems Auditor ( CISA ) yang pertama di Indonesia. Sekaligus nama Indonesia terangkat peringkatnya di kalangan ISACA karena mampu meluluskan 100% calon yang maju ( memang hanya saya sendirian ). Di lingkungan masyarakat pengawasan seperti BPK, BPKP, dan juga BI, predikat CISA ini jauh lebih gagah dan disegani katimbang gelar kesarjanaan formal saya yang bermacam-macam itu. Di forum ISACA Internasional saya dikenal sebagai Dr. Ichjar Musa CISA.
Salah satu ganjelan saya dalam berolahraga adalah gangguan persendian alias reumatik. Bukan karena kurang gerak, tetapi rasanya karena kebanyakan menyantap makanan yang membangkitkan asam urat. Nyeri sendi di pangkal lengan, siku dan jemari menyebabkan permainan tennis, golf dan squash saya terganggu. Untuk mengatasinya saya selalu minum jamu Super Manjur Nomor 2 dari Cilacap. Timbul nyeri sedikit segera saya minum jamu tersebut, nyerinya akan hilang dan kemudian kambuh lagi. Saya punya persediaan jamu ini satu lemari obat penuh. Eeh, tiba-tiba keluar pengumuman dari Ditjen POM Depkes, yang melarang peredaran sejumlah jamu karena mengandung bahan kimia yang berbahaya. Salah satu jamu yang dilarang adalah Super Manjur Nomor 2 dari Cilacap ini! Dalam kondisi gundah karena nyeri sendi mulai terasa, saya nonton siaran TV yang menayangkan penyembuhan secara spiritual dengan memanfaatkan enerji alam semesta ( Reiki ). Yang diwawancarai pada acara itu adalah pak Wiyogo ex Gub DKI, yang cerita sakit sendinya hilang setelah menjadi praktisi Reiki. Saya telpon stasiun TV tersebut dan minta alamat pelatihan Reiki, dan kebetulan ada pelatihan pada Sabtu depannya. Sebagai penganut aliran rasional-analitis, awalnya rada malu ikut-ikutan hal yang kurang rasional ini. Tapi dari pada kalah main tennis lawan pak Darwis (kalahnya tidak soal, tapi ejekannya itu lho), yah saya jalani juga. Karena ingin instant noodle, saya langsung ikuti pelatihan Reiki I dan Reiki II berturut-turut. Saya jalani semua petunjuk yang diberikan, baik dalam melakukan meditasi, penyaluran enerji, pengendalian kundalini, maupun praktik membantu penyembuhan di klinik Reiki di kompleks Duta Merlin. Setelah merasa enerji yang disalurkan semakin kuat vibrasinya, Reiki III saya ikuti. Dan setahun kemudian baru saya mendapat attunement untuk Reiki IV dan mendapat sertifikat sebagai Reiki Master (RM). Selain berkemampuan menyalurkan nur-Ilahi untuk membantu penyembuhan-komplimenter (bukan penyembuhan alternatif) sebagaimana praktisi Reiki lainnya, seorang RM mampu dan berhak untuk menurunkan ilmu ini melalui prosesi inisialisasi (attunement). Di dalam pertemuan antara sesama penghusada saya dikenal dan disapa sebagai Ichjar Musa RM.
Sejalan dengan kemampuan bantuan penyembuhan memanfaatkan nur-Ilahi, saya juga tertarik dengan upaya terapi menggunakan teknik hypnosis atau yang dikenal sebagai Hypno-therapy. Untuk maksud tersebut saya mengikuti pelatihan dasar hypnosis dan dilajutkan dengan pelatihan khusus speed-induction, yakni teknik menghipnosis sesorang secara cepat. Walaupun sudah menjadi Certified Hypnotist (CH), tapi untuk ilmu yang satu ini saya belum banyak memanfaatkannya. Masih kuatir, salah-salah bisa digebuki orang disangka sedang praktik ilmu gendam. Jadi predikat CH sementara tidak saya pasang. Jika ada waktu, saya akan melanjutkan pelatihan sehingga jika dapat meraih Certified Hypno-Therapist (CHT) baru predikat ini saya pakai.
Memasuki tahun ajaran baru 2006, semula saya bermaksud mengambil program Magister Sains di UI untuk jurusan Manajemen SDM. Saya ikut ujian masuk dan berhasil lulus, namun pengaturan jadwal kuliah kurang cocok dengan aktifitas saya di klub De Seniors yang kelola. Kebetulan di koran ada iklan untuk pelatihan sebagai Mediator, yang diselenggarakan oleh IICT sebagai lembaga terakreditasi dari Mahkamah Agung. Pada waktu kuliah di Magister Hukum saya pernah mendapat mata kuliah tentang Alternatif Penyelesaian Sengketa (APS) dan Arbitrase. Mengetahui pentingnya penyelesaian sengketa di luar proses pengadilan, serta mengantisipasi bakal banyaknya perkara perdata yang berpeluang diselesaikan melalui APS dan atau Arbitrase ini maka saya tertarik memasuki bidang ini. Dengan mengambil cuti seminggu dari kantor dan merogoh uang 4 juta dari kantong, saya lulus sebagai peringkat kedua dari diklat Mediator. Sesuai dengan Peraturan Mahkamah Agung Nomor 2 Tahun 2003 maka saya berhak menyandang predikat Mediator Bersertifikasi atau Certified Mediator (CM) : Ichjar Musa C.M.
Sejujurnya, jika pendulum waktu bisa dimundurkan, sebenarnya cita-cita saya hanya satu. Saya ingin menyandang predikat sebagai “hafiz Al-Qur’an”. Berbekal predikat tersebut dapat dipastikan nasib saya di akhirat akan lebih menjanjikan katimbang sederet gelar yang saya miliki sekarang ini. Dan konon sebagai seorang hafiz juga diperkenankan untuk mengusulkan orang-orang yang kita pilih untuk dimohonkan mendapatkan syafa’at dari junjungan kita Nabi Muhammad S.A.W. Mau ikut daftar?

TUNTUTLAH ILMU SAMPAI KE NEGERI CINA

Ya ALLAH, berilah kemanfaatan bagiku ilmu yang telah Engkau ajarkan kepadaku dan ajari aku ilmu yang bermanfaat serta tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan (HR. Ibnu Majah dan at-Tirmidzi)

Si Ichjar itu kerjanya sekolah melulu, tapi sebenarnya bukan mau cari ilmu, melainkan biar dapat “exit-permit” dari orang rumahnya. Begitu lazimnya olok-olokan yang sering saya dengar dari kawan-kawan. Terus terang ada benarnya juga sedikit sih, tetapi yang sebenarnya memang saya termasuk manusia yang ingin mengetahui banyak hal. Tentu saja hal-hal yang memberikan kemaslahatan. Saya berpandangan bahwa ilmu apa saja yang kita pelajari pasti ada gunanya, setidaknya untuk kita sampaikan kembali kepada orang lain. Dan bukankah agama kita juga mengajarkan bahwa salah satu sumber pahala yang tetap mengalir walaupun kita sudah wassalam adalah ilmu yang bermaslahat yang dimanfaatkan oleh orang banyak?
Gelar pendidikan formal perguruan tinggi yang pertama saya raih adalah Insinyur ITB jurusan Elektroteknik. Walaupun kurang spektakuler, kuliah S-1 di ITB ini saya selesaikan dalam kurun waktu 5-6 tahun. Selesai dalam 5 tahun tapi diwisuda di tahun keenam, bersamaan dengan Muslimin Nasution salah satunya. Gara-gara selalu jeblok dalam mata kuliah Teori Fungsi, tingkat sarjana muda saya tertunda dan diraih bersamaan dengan tingkat sarjana satu setelah 3.5 tahun kuliah. Demonstrasi mahasiswa pada tahun 1965-1966 menyebabkan kegiatan kampus praktis lumpuh. Untung saja saya sudah menyelesaikan hampir semua mata kuliah, kecuali tugas kerja praktek lapangan. Berbeda dengan rekan-rekan Elektro yang umumnya praktek di PLN untuk Arus Kuat dan di PTT untuk Arus Lemah, saya yang menjadi mahasiswa kerja praktek yang pertama di perwakilan perusahaan komputer dunia yakni IBM Indonesia. Sambil kerja praktek saya pun menyiapkan skripsi tentang komputerisasi administrasi kemahasiswaan ITB. Sistem yang saya rancang itu kemudian diimplementasikan di ITB, sehingga Nomor Induk Mahasiswa yang digunakan di seputar tahun 1968 adalah ciptaan saya. Untuk pengolahannya ITB masih menumpang pakai komputer IBM 1401 yang terpasang di Ajudan Jenderal Angkatan Darat. Pada masa itu ujian sarjana dilakukan secara terbuka dimana selain dosen juga para mahasiswa berhak mengajukan pertanyaan. Walaupun saya sudah menyiapkan kawan-kawan yang khusus akan menjadi penanya “bayaran”, namun tetap saja kecolongan dengan beberapa “musuh” yang ingin menjatuhkan. Tetapi syukurlah saya dapat mengatasinya dengan baik, sehingga gelar Insinyur bisa disandang : Ir. Ichjar Musa !
Pendidikan formal strata-1 yang kedua adalah di Extension Fakultas Ekonomi UI yang saya mulai pada tahun 1972. Pada waktu itu saya memang menjadi dosen luar biasa yang mengajar Teknik Komputer di Fakultas Tehnik UI. Saya masih ingat salah satu mahasiswa Tehnik yang pernah jadi mahasiswa saya adalah pak Akbar Tanjung. Di kampus Salemba itu saya sering bertemu dengan bekas senior ITB dan PMB yang kuliah Ekonomi, antara lain pak Qoyum, Rohali Sani dan Surghani. Mereka inilah yang mengajak saya untuk gabung jadi mahasiswa Extension FE-UI tersebut. Dalam profesi saya sebagai analis sistem informasi, memang saya selalu bersinggungan dengan cabang ilmu kedisiplinan Ekonomi seperti akuntansi, manajemen keuangan, manajemen SDM, manajemen produksi dan pemasaran. Singkatnya, saya tertarik untuk mengetahui ilmu aslinya. Karena sebagai seorang sarjana S-1 kami bisa langsung ke tingkat dua, selanjutnya saya kebut jenjang sarjana muda dan sarjana satu dalam waktu satu tahun saja. Tapi oleh satu dan lain hal saya agak lalai menyelesaikan skripsi sampai dengan waktu yang lama. Sebenarnya sudah berkali-kali saya mencoba membuat skripsi, tetapi setiap kali hampir rampung saya merasa skripsi saya kurang bermutu dan lalu ganti topik yang lain. “Sudahlah, asal jadi saja, tak usah bikin masterpiece”, demikian nasehat pak Sunyoto Subekti pembimbing saya. Setelah lima kali tidak rampung juga, semangat untuk menyelesaikan sekolah jadi kendor. Sementara itu beredar issue bahwa skripsi bisa diganti dengan dua mata kuliah tambahan. Setelah ditunggu cukup lama ternyata issue itu masih berupa wacana yang belum segera diimplimentasikan. Untuk waktu yang panjang saya terpaksa menyandang gelar SEKSI alias Sarjana Ekonomi Kurang Skripsi. Saya praktis sudah melupakan skripsi ini sampai pada saat saya diangkat menjadi Staf Ahli Menmuda UP3DN. Di sini saya ketemu kembali dengan kawan kuliah yakni pak Kumhal Djamil dan pak Qoyum. Memanfaatkan jejaring yang berbau KKN, saya dan pak Kumhal mengambil skripsi tentang pabrik baja Krakatau Steel. Kalau mahasiswa biasa mungkin harus berpeluh keringat untuk mencari data, kami sebagai tamu Direksi tinggal menunggu di mess Direksi dan semua data dibawa oleh pejabat perusahaan ke situ. Sayangnya, skripsi saya tentang Struktur Biaya PT Krakatau Steel yang sudah 90 % rampung terhapus dari rekaman komputer saya sedangkan back-up disket juga rusak. Justeru pak Kumhal yang sama-sama ke Krakatau Steel dan pak Qoyum yang sering tanya tentang MDA malah lebih duluan lulus. Akhirnya, suatu saat pada tahun1986 saya dipanggil pak Ginandjar Kartasasmita, bos saya yang Menteri Muda UP3DN. Beliau bilang : “Yar, you ini katanya pinter, tapi kok sekolahnya nggak klar-klar. Masak kalah ama Kumhal dan Qoyum?”. Bersamaan pula waktu itu saya mendapat ancaman akan didrop-out oleh UI jika dalam waktu 3 bulan tidak menyelesaikan skripsi. Waktu itu mulai masuk bulan Ramadhan. Saya susun kembali skripsi saya setiap habis sahur dengan target minimum 10 lembar sehari. Walhasil dalam waktu satu bulan saya rampungkan skripsi setebal 300 lembar. Komentar pembimbing : “ini sih bukan skripsi tapi disertasi”. Saya diuji oleh pembimbing pak Sunyoto Subekti, pak Nasrudin Sumintapura dan pak Bambang Subianto. Opo ora hebat, saya diwisuda sebagai Sarjana Ekonomi setelah 16 tahun kuliah. Panggilan pun berubah jadi : Ir. Ichjar Musa, S.E. !
Waktu UI membuka kelas program pasca untuk strata-2 Magister Manajemen, saya ikut daftar untuk tes masuk. Tadinya hanya sekedar ikut-ikutan tes masuk, mengingat biaya kuliahnya yang relatif mahal. Dengan bekal pengetahuan dan pengalaman tentu saja saya berhasil lolos. Tinggal bagaimana caranya saya harus bisa meyakinkan sang nyonya mengenai manfaat ikut sekolah lagi. Berhasil meyakinkan orang rumah, tantangan ikut program MM ini ternyata berat sekali. Dengan program yang terstruktur 4 semester, praktis tidak ada waktu luang dan hari libur. Tugas baca buku, pembuatan paper dan PR yang rumit menyita waktu dan pikiran. Saya jadi bingung jika kemudian hari ada orang yang menyandang gelar MM tapi hanya kuliah 6 bulan dan tak kelihatan pernah bikin paper. Mungkin MM nya berarti Manusia Millenium bukannya Magister Manajemen. Sebagian besar mata kuliah saya selesaikan dengan straight-A. Tapi ada juga hal yang lucu, yakni untuk mata kuliah MIS saya diminta oleh dosen untuk tidak boleh bertanya dan atau membuat komentar. Mereka paham bahwa saya tergolong “dukun” di bidang ini. Sesuai jadwal, dengan mengambil tesis tentang MIS di lingkungan PT Pelindo II bersama
dengan pak Setiohari, saya menyelesaikan program pasca sarjana MM angkatan I UI ini dan saya disapa sebagai : Ir. Ichjar Musa, S.E., M.M. !
Sebagai Staf Ahli Menteri Perhubungan dan kemudian sebagai Kepala Pusat Data dan Informasi, saya banyak berhubungan dengan ITB khususnya Jurusan Planologi yang menyelenggarakan berbagai studi antara lain untuk survai asal-tujuan (O/D survey). Disinilah saya mengenal pak Kusbiantoro, yang mengajak saya untuk mengambil S-3 di Planologi ITB, sebagaimana halnya senior saya pak Giri Suseno yang sudah menjalaninya. Singkat cerita, pada tahun 1998 tersebut saya ikut saringan program doktor Perencanaan Wilayah dan Kota (PWK) bersama dengan beberapa rekan lain dari BPPT dan Perhubungan sendiri. Dalam waktu yang bersamaan saya juga terpilih untuk mengikuti program doktor di UI, bersama dengan lima rekan dari program MM yang lulus dengan nilai kumulatif di atas 3.50 dan bernilai A untuk mata kuliah tertentu. Jadi saya sempat mengambil program S-3 di dua perguruan tinggi. Setelah setahun menjalani program ganda ini dan setelah lulus dari beberapa kuliah umum di UI akhirnya saya memutuskan untuk konsentrasi pada program di ITB saja. Pasalnya karena program UI mensyaratkan harus ikut beberapa kuliah secara penuh di dalam prime-time pukul 09.00 sampai 12.00. Hal ini sukar saya luangkan karena jabatan saya juga praktis penuh-waktu. Di ITB sendiri walaupun tidak ada kuliah wajib namun tatap-muka, konsultasi dan seminar yang diselenggarakan di Bandung dan Jakarta tetap saja lumayan berat. Apalagi saya yang datang dari kedisiplinan hard-technology agak canggung berhadapan dengan disiplin PWK yang tergolong soft-technology. Demikian pula kiat dalam penelitian program doktor yang berangkat dari kajian fenomenon sebagai simpangan antara das Sollen dengan das Sein memerlukan pergeseran atas pola-pikir. Setelah menyelesaikan ujian komprehensif, penyusunan Usulan Penelitian (UP) merupakan beban utama. Setelah berkali-kali melakukan perubahan, perombakan dan modifikasi, akhirnya UP yang saya susun disetujui oleh promotor Prof. Sugianto (alm). Disertasi yang tak knjung selesai ini rupanya didengar juga oleh bos saya pak Hartarto. Beliau menanyakan kok studi doktornya tak rampung-rampung. Setengah berseloroh saya jelaskan bahwa memang S-3 ITB itu jauh lebih ketat. Dan yang saya selesaikan ini doktor betulan, bukan doktor Honoris Causa.. “Ah, kamu bisa saja bikin alasan “ gumam beliau, yang memang sudah menyandang 7 gelar doktor HC. Malang tak bisa dihadang, dalam kunjungan kerjanya ke Papua mendadak sang promotor meninggal dunia. Tidak adanya professor di PWK untk menggantikan Prof. Sugianto menyebabkan Senat ITB mengeluarkan maklumat bahwa kami boleh ganti promotor dengan professor ITB jurusan apapun. Pilihan saya jatuh pada Prof. Kudrat Sumintapura (alm), yang merupakan pembimbing saya waktu di S-1 dulu. Karena beliau Profesor jurusan Elektro maka praktis saya harus menjelaskan kembali UP yang sudah disetujui dulu. Penyelesaian disertasi ini memerlukan waktu tambahan sekitar dua tahun, yakni sepuluh bulan untuk penyelarasan UP, enam bulan untuk studi lapangan, dua bulan sakit typhus dan enam bulan untuk mengolah data serta menulis disertasi. Dengan topik tentang faktor-faktor lokasi yang mempengaruhi pemilihan kawasan industri, studi lapangan mencakup penghimpunan data untuk 96 faktor lokasi dari 132 perusahaan dari 14 kawasan industri yang tersebar di 7 propinsi. Sedikit ketegangan terjadi menjelang ujian terbuka, karena promotor yakni Prof. Budhiati Tjahyati (yang berganti posisi dengan ko-promotor Prof. Kudrat S) sedang berada di India dalam menjalankan tugas sebagai Deputi Meneg Kimpraswil. Mengingat ITB telah mencantumkan jumlah doktor yang akan diwisuda maka bu Yati diminta segera kembali walaupun tugasnya belum rampung di India. Saya pun jadi ikut wisuda ITB yang diselenggarakan pada awal tahun 2000 sebagai doktor di bidang Ilmu Teknik. Dengan demikian nama saya menjadi : Dr. Ir. Ichjar Musa, S.E., M.M. !
Dalam keseharian, baik sebagai analis sistem, konsultan, auditor, dosen, maupun sebagai pejabat pemerintah, saya sering berhadapan dengan bidang hukum. Kurangnya pemahaman dan pengetahuan dalam bidang hukum ini kadang kala menyukarkan dan menyudutkan kita pada posisi yang lemah. Masalah hukumnya bukanlah bidang pidana tetapi lebih banyak bidang perdata, dan lebih khusus lagi bidang hukum bisnis. Sebelum program Magister Hukum Bisnis diperkenalkan, saya pernah menghubungi sejumlah perguruan tinggi menanyakan kemungkinan penyelenggaraan program strata-2 Hukum untuk non-SH. Pada waktu itu hanya UNDIP yang memberikan tanggapan, bersedia menyelenggarakan program tersebut dengan syarat tersedia minimum 20 peserta program. Karena tak mampu mengumpulkan jumlah tersebut maka gagasan program tersebut batal. Baru dalam tahun 2002 UNPAD menyelenggarakan kelas eksekutif program Magister Hukum Bisnis di Jakarta. Sayang sekali saya terlambat mendaftar pada angkatan I sehingga baru pada angkatan II saya mulai kuliah lagi. Ini pun dengan susah payah karena uang kuliahnya walaupun bisa dibayar cicil tetap saja tergolong mahal. Petugas administrasi semula agak ragu apakah saya ini mau ikut kuliah atau ngasi kuliah, karena saya memang tercatat sebagai dosen di Pasca Sarjana UNPAD pada Program Studi Kebijakan Publik. Sebagian besar dosen cukup saya kenal, seperti Prof. Mieke Komar, Prof. Heru Soepraptomo (almarhum), pak Jusuf Anwar, pak Sofyan Djalil dan Prof. Ramli. Tapi ada kurang enaknya, jika hasil ujian saya diberi nilai A maka teman-teman nyindir bahwa itu gara-gara KKN. Sebaliknya kalau jeblok maka mereka bilang saya bikin malu sebagai teman dosen. Jadi posisi saya jadi serba susahlah. Sebagai suatu program pendidikan terstruktur, semua mata kuliah rampung saya ikuti sesuai dengan jadwal yakni 4 semester, dengan hutang paper sebanyak 3 judul. Namun kesibukan dalam pekerjaan menyebabkan saya tidak maju-maju dengan UP, apalagi penulisan tesis. Ketika terbit edaran bahwa jika UP tidak rampung dalam 7 semester dan tesis dalam 10 semester akan diberlakukan pembekuan status kemahasiswaan (artinya harus registrasi-ulang), baru saya tergerak kembali. Dengan mengambil judul tesis Penerapan Good Corporate Governance Pada BUMN dan Peranan Audit Sistem Informasi, baik UP maupun tesis saya selesaikan dalam waktu 3 bulan. Pada tanggal 3 Juni 2006 saya pun ikut dalam barisan mahasiswa yang diwisuda oleh Rektor UNPAD Prof. Himendra, yang dulunya sebangku dengan saya di SMA Teladan. Dengan selesainya program ini nama lengkap saya menjadi : Dr. Ir. Ichjar Musa, S.E., M.M., M.H.
Banyak teman yang ingin menebak gelar apa lagi yang akan saya raih. Beberapa menganjurkan saya untuk mengambil S-3 Hukum, ada juga yang sarankan ambil S-2 Filsafat saja, yang merupakan ibunya semua ilmu. Dengan santai saya selalu menyampaikan bahwa saya sedang menantikan gelar yang terakhir. Dan yang satu ini tak perlu kuliah, bikin tesis atau disertasi, yakni ALM alias Almarhum. Tapi jangan cepat-cepat ah, saya belum memerlukannya kok, he….he….

“YAI” SI BAYI SEHAT

Segala puji bagi ALLAH, TUHAN yang memberikan kesehatan pada tubuhku, mengembalikan rohku kepada diriku, dan mengizinkan aku untuk menginat-NYA (HR. Tirmidzi)

Untuk keluarga dekat maupun teman tertentu, sapaan akrab saya adalah “si Yai”. Kata ini pasti datang dari mulut kecil saya dulu yang belum bisa melafaskan kata Yar secara benar sehingga menjadi Yai. Tapi untuk banyak kalangan yang mengenal saya sejak masa dewasa, panggilan yang juga melekat, dalam konotasi konyol dan bercanda adalah “si bayi sehat”.
Sewaktu masih di SMA, badan saya tergolong kurus. Selain memang asupan gizi yang mungkin pas-pasan, kegiatan olah raga bola basket menyebabkan dan sekali gus mensyaratkan berat badan yang harus ideal bagi atlit. Persoalan berat badan mulai muncul sewaktu saya mengalami kecelakaan dalam suatu pertandingan basket persahabatan antara ex siswa SMA asal Jakarta dengan tim Budi Utomo Jakarta.Tempurung lutut bergeser dan walaupun sudah ditangani oleh dukun pak Bohon yang terkenal di Bandung, kondisinya tak pernah pulih normal kembali. Berhentinya aktifitas basket dan jatah gizi kost-jongen yang diberikan oleh keluarga Ibrahim Martalogawa (alm) mulai menimbulkan pertumbuhan badan yang berlebihan. Tetapi pertumbuhan yang menyolok terjadi waktu sudah menikah dan bekerja di IBM. Selain layanan makanan bergizi di rumah, traktir klien makan siang merupakan acara rutin. Tak heran jika bobot tubuh meningkat ke angka diatas 95 kg.
Upaya menguruskan badan pertama kali disarankan oleh bu Tini Djodjo Diran. Mulailah riwayat saya menjadi pasien dr. Azis di bilangan Cikini. Sebagian besar pasien adalah ibu muda atau artis yang menginginkan tubuh yang langsing. Dengan pantat penuh dengan lubang suntikan, memang dalam waktu sekitar tiga bulan bobot saya melorot dari 95 kg menjadi 78 kg atau susut sebanyak 18 kg. Walaupun badan menjadi lebih enak tetapi banyak teman yang tidak sepakat kondisi saya yang kurus itu. “Kau bukan dirimu lagi”, demikian kilah mereka, karena ciri khas saya memang “si bayi sehat”. Kemudian mulai terjadi proses akordion, sebentar gemuk dan sebentar kurus. Teman-teman banyak yang maklum, kalau saya gemuk artinya kantong lagi kempes karena tidak mampu ke dr. Azis dan sebaliknya.
Dengan dalih mengantarkan bu Odie Bus Kusmulyono dan bu Mien Martiono, saya mengikuti program pengurusan tubuh di salah satu slimming-center di kawasan Hayam Wuruk. Kalau dr. Aziz kasi suntikan maka disini pengurusan dilakukan dengan pembalutan seluruh tubuh dan dimasukkan ke dalam suatu kapsul yang dipanaskan. Karena setiap hari badan diukur oleh petugas yang lumayan molek maka motivasi untuk menjadi kurus memang terbangkit. Dengan pengaturan diet yang baik dan olah raga yang memadai, saya memang berhasil menurunkan bobot menjadi sekitar 80 kg untuk waktu yang cukup lama. Sayang sekali, justeru kedua sponsor saya malahan yang tidak berhasil, sehingga akhirnya grup kita berhenti jadi pelanggan slimming-center tersebut. Upaya pengurusan badan berikutnya adalah dengan cara pengaturan gizi dan minum food-supplement yang diselenggarakan oleh suatu slimming-center di sekitar jl. Sudirman Jakarta. Metode ini cukup berhasil, saya sempat turun sekitar 7 kg dalam waktu 2 bulan. Sayang, fasilitas ini tiba-tiba tutup dan walaupun saya tetap mengkonsumsi food-supplement namun tidak berhasil mempertahankan lajunya berat badan.
Atas petunjuk beberapa teman, saya dirujuk untuk mencoba terapi susuk kurus yang diselenggarakan oleh seorang sinshe, kalau tidak salah sinshe Leo. Dengan menempatkan susuk di area bawah telinga dan hanya mengkonsumsi buah pier atau bangkuang serta minum kopi dengan ampasnya di pagi hari, berat badan turun sekitar 5 kg dalam sebulan. Tapi saya tidak tahan dengan metode yang sangat menghindarkan minum ini. Waktu itu saya sedang senang-senangnya main tennis, golf dan squash sehingga kuatir terjadi dehidrasi. Lucunya, susuk yang gunanya untuk menekan nafsu makan itu pernah lepas pada waktu saya berenang, Karena tidak tahu titik akupunturnya susuk tersebut saya pasang sekenanya saja. Hal tersebut membuat sinshe Leo merengut karena titik yang saya pasang itu justeru titik untuk membangkitkan nafsu makan. Saya juga pernah coba sinshe yang lain, yakni sinshe Bun yang menggunakan tenaga dalam berupa enerji listrik yang keluar dari jari-jari tangannya. Badan menjadi segar, tetapi nafsu makan bertambah dan walhasil badan tetap saja gemuk. Dengan niat meningkatkan vitalitas dan mengurangi berat badan, dengan bantuan pak Iyon dari BPKP Jabar, saya juga pernah bertandang ke kompleks Haji Undang di daerah Tasikmalaya. Demikian pula terapi akupuntur, aqu-pressure sampai dengan batu giok, minum berbagai herbal dan jamu, langganan makanan diet Christin, semuanya sudah saya jalani. Hasilnya yah badan tetap sebagai akordion, kadang kurus dan umumnya bertahan gemuk.
Dengan pengalaman bermacam-macam cara tersebut, saya sering dimintakan pendapat tentang kiat untuk melangsingkan tubuh. Dengan nada yang meyakinkan biasanya saya akan memberikan fatwa sebagai berikut :
“Tidak mungkin sesorang menjadi kurus kalau tidak melakukan 5 hal. Yang pertama kita harus menegakkan motivasi, misalnya saya harus kurus agar nanti pada acara malam Tahun Baru bisa tampil prima. Yang kedua, kita tak mungkin jadi kurus tanpa melakukan diet, terutama mengurangi asupan karbo-hidrat. Omong kosong jika ada iklan yang menyatakan kita bisa kurus tanpa mengurangi makan dan minum, apalagi cemilan. Yang ketiga, jika mau kurus harus dengan mengkonsumsi obat-obatan dan dibawah bimbingan dokter. Tanpa dukungan obat-obatan, apakah kimia atau herbal rasanya sukar untuk membakar lemak yang menumpuk di bawah kulit. Yang keempat, program pengurusan tubuh lebih cepat sukses jika dibarengi dengan aktifitas olahraga yang memadai. Selain untuk membakar kalori, juga untuk membentuk tubuh yang lebih segar dan kencang. Nah, kalau yang kelima, rada berat memang, yakni harus memperbanyak hubungan seks, tapi bukan dengan muhrim alias selingkuh, he…..he……”
Biasanya teman-teman langsung setuju fatwa saya ini, dan utamanya ingin mulai dengan hal yang kelima. Nah disini dia kena batunya! Saya tegaskan bahwa hal yang kelima justeru baru boleh dilakukan setelah keempat hal di atasnya sudah dijalankan. Kalau empat hal teratas sudah dijalankan maka pasti badan keburu menjadi loyo, dan hal kelima yang dibayangkan itu mana mungkin lagi dilakukan!
Kondisi kini, badan masih tambun, tetapi upaya untuk menurunkan bobot tetap bergelora.* Setidaknya saya ingin tak ada teman yang menggerutu keberatan, waktu pada saatnya nanti saya harus digotong ke tempat istirahat yang terakhir. InsyaALLAH !
*Pada saat tulisan ini dalam penyelesaian, sekali lagi saya mendapat ujian ALLAH dengan kambuhnya penyakit psoriaris yang paling parah. Akibat terganggunya nafsu makan, bobot saya menurun drastis dari 96 kg menjadi tinggal 72 kg atau susut 24 kg!

SELINTAS PERJALANAN HIDUP

Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah, dan pertemukanlah aku dengan orang-orang yang saleh, serta jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Dan jadikanlah aku termasuk golongan orang-orang yang mewarisi surga yang penuh nikmat (QS. Asy-Syu’ara {26} : 83-85)

Terlahir sebagai anak yang kesebelas dari sebelas bersaudara, pastilah saya bukan menjadi anak yang terlalu diharap-harapkan kelahirannya. Mungkin juga hal ini sekedar sebagai dampak belum dikenalnya program Keluarga Berencana pada waktu itu. Dengan bantuan bidan kampung, saya lahir di Mentok di ujung barat pulau Bangka. Tepatnya di suatu rumah panggung yang terletak di jalan menuju Kota Seribu, yakni situs pemakaman leluhur dan tokoh-tokoh pendatang masa lalu. Saya diberi nama Ichjar, karena abang di atas saya bernama Ichsan maka penggal nama “Ich” dipakai lagi untuk mudahnya. Sedangkan penggal kata “jar” diambil dari kata “berlayar” karena waktu saya dilahirkan ayah tidak berada di rumah melainkan sedang berlayar dengan kapal penangkap ikannya. Tapi oleh sebagian orang-orang tua famili saya, nama saya sering disebut Achjar. Kalau nama ini agak berat nyandangnya, karena konon dalam bahasa Arab berarti “orang (jamak) yang baik”.
Sebenarnya keluarga besar kami pada waktu itu tinggal di rumah di kawasan kebun yang terletak 10 km dari Mentok. Di jalan yang menuju ke arah mercu suar Tanjung Kelian. Pada waktu bala tentara Jepang mendarat di pantai Tanjung Kelian dan masuk ke kota Mentok, keluarga justeru hijrah ke dalam kota dan menempati rumah kepunyaan nenek yang di Kota Seribu tadi. Walaupun sering berpindah rumah karena nenek ( dari pihak ayah ) punya banyak rumah dan ayah putera tunggalnya, masa kecil saya sebagian besar dihabiskan di rumah yang terletak di Kampung Tanjung dan rumah yang di kebun. Lazimnya kami bedol keluarga ke kebun jika musim buah-buahan utamanya rambutan telah tiba. Ayah seorang penggemar berat tanaman hortikultura. Kebun kami penuh dengan puluhan pohon rambutan aneka jenis, pohon mangga dan jambu. Mungkin koleksi jenis rambutan tak ada yang menyamai kebun kami. Rapi’ah, kopyor, lebak bulus, si macan, si gajah, kelingking, merupakan sebagian nama yang bisa saya ingat. Semua bibitnya oleh ayah ditelusuri dan dibeli di Jawa dan dibawa ke Bangka dengan kapal ikannya. Sayang, kebun tersebut sudah punah terbakar, demikian pula rumah di situ tinggal seonggok tiang saja yang tersisa sebagai kenangan.
Sebagai anak bungsu, banyak kemudahan yang didapat, baik dalam tingkat prioritas pembagian rejeki maupun proteksi fisik dari abang-abang yang sudah besar. Apalagi jika berhadapan dengan para atok (istilah kami untuk menyebut kakek), si bungsu selalu menjadi cucu kesayangan. Penganan selalu disembunyikan kalau abang-abang datang ke rumah atok, tetapi segera keluar jika saya yang datang. Karena penjagaan yang ketat, sukar dipercaya bahwa sepanjang masa kecil saya (dan sampai sekarang) saya belum pernah sekalipun terlibat dalam perkelahian fisik. Jadi masa kecil saya lebih terkesan sebagai anak baik dan manis, namun tidak manja walaupun agak dimanjakan.
Meninggalnya ayah dalam tahun 1956, menyebabkan keluarga agak tercerai berai. Mak beserta dua abang pindah ke Plaju. Beberapa saudara bekerja di Caltex dan sudah menetap di Rumbai, dan ada juga yang tinggal di Jakarta. Hanya saya dan abang nomor empat yang masih bertahan di Bangka. Saya baru hijrah ke Jakarta setelah lulus dari SMP pada tahun 1958, menyusuli hampir semua keluarga yang sudah berkumpul kembali di Jakarta. Baru 10 tahun kemudian, saya kembali menjejakkan kaki di Bangka. Pada waktu itu, sebagai Systems Analist PT IBM Indonesia melakukan survai untuk upaya komputerisasi Tambang Timah Bangka. Karena saya merantau ke Jawa sini sekitar 50 tahun dari umur, saya sering dianggap sebagai putera-daerah yang rendah kadar kedaerahannya.
Dengan angka kelulusan yang baik, saya diterima masuk sekolah SMA III Setiabudi, yang kemudian beralih menjadi SMA Teladan. Sekolah ini terbilang elit, dan pertama kalinya diberlakukan Pemerintah sebagai sekolah dengan ujian sendiri. Selama sekolah di sini, saya tercatat sebagai murid yang cukup dikenal. Dipercaya menjadi ketua kelas dan dengan prestasi yang selalu mendapat nomor, saya bertindak sebagai mentor untuk berbagai pelajaran bagi teman-teman. Partisipasi sebagai pemain utama tim basket Teladan Tornado, menjadikan masa di sekolah Setiabudi cukup berkesan.
Sebagai lulusan peringkat dua jurusan Pasti – Alam, upaya masuk ke perguruan tinggi bukanlah hal yang menyukarkan. Saya ikut daftar dan tes di lima perguruan tinggi dan diterima di kelimanya. Namun akhirnya saya memilih ITB karena sebagian besar teman baik saya juga lolos ke ITB. Sebenarnya saya ditawari untuk mengikuti pendidikan di Australia memanfaatkan program Colombo Plan pada waktu itu. Dengan koneksi kakak saya Norma yang waktu itu bekerja di Sekretariat Negara dan menjadi sekretaris pribadi Bung Karno, dengan mudah bisa saja melakukan KKN. Tapi akhirnya saya lebih memilih tetap sekolah di Bandung, salah satu sebabnya mungkin karena sudah merasa betah bergaul dengan mojang-mojang Bandung.
Mengambil jurusan Elektroteknik dengan kejuruan Arus Lemah, saya akui tidak optimal belajar sebagai mahasiswa. Selain kegiatan organisasi PMB yang penuh hura-hura, suasana orang muda yang banyak pesta dan canda memang cukup menggoda. Demikian pula berbagai kegiatan kampus di bidang olahraga dan kewiraan memang sedikit banyaknya mengganggu konsentrasi belajar. Namun berkat partisipasi dalam kewiraan yakni sebagai anggota Resimen Mahasiswa Mahawarman Batalyon-I ITB saya bisa berkenalan dengan anggota mahasiswi lainnya, yang kemudian menjadi sang nyonya. Setelah usai pergerakan mahasiswa melawan Orde Lama, praktis studi kami agak terlunta-lunta. Pada waktu teman-teman sesama demonstran larut dalam bermain tennis, bridge dan karate untuk mengisi waktu luang, saya tergerak untuk mengambil kerja-praktek di Jakarta. Karena kejuruan Arus Lemah pada waktu itu bersinggungan dengan bidang Kontrol, saya pernah dapat tugas dalam suatu tim untuk merancang komputerisasi kantin ITB oleh dosen Ir. Reka Rio. Proyek itu sendiri gagal, tetapi minat saya terhadap bidang komputerisasi membawa saya untuk kerja-praktek di perusahaan IBM Indonesia. Saya memang diejek teman, kok mau-maunya praktek di perusahaan cash-register, demikian istilah teman-teman menyebut perangkat komputer. ALLAH Karim, selain kerja-praktek selesai, tugas akhir skripsi juga rampung, sehingga saya bisa ujian akhir. Saya juga ditawarkan oleh IBM Indonesia menjadi pegawainya. Jadi kuliah di ITB saya tempuh mulai tahun 1961 sampai dengan akhir 1966, walaupun baru diwisuda pada tahun 1967.
Semasa bekeja sebagai IBM Employee inilah saya melangsungkan penikahan dengan pacar terakhir saya : Dra. Yati Ruswiyati Rusadi Wiradiningrat. Bujang dari Bangka ketemu dengan mojang Priangan. Perjalanan hidup penuh lika-liku pun berlangsung. Mulai dengan tinggal di rumah Mertua Indah, sebagai kontraktor, karena setiap tahun ngontrak atau memperpanjang kontrak rumah, sampai dengan akhirnya punya rumah sendiri. Sukar dipercaya, dihitung-hitung saya pindah rumah sampai tujuh kali. Rumah yang pertama dibangun sendiri berada di Kalibata Utara, kemudian pindah ke Villa Cinere Mas, kembali ke Kalibata Utara, Villa Cinere Mas kembali, lalu ke Pondok Indah, ke Kebayoran Baru, sempat di Kahfi I, dan terakhir di Taman Lebak Bulus yang sekarang. Kawan-kawan banyak yang mengeluh kalau kirim undangan kok sering dikembalikan atau tidak sampai tujuan. Secara enteng saya selalu berseloroh bahwa itu dapat disebabkan oleh dua hal, saya “orang kaya” yang kerjanya ganti-ganti rumah, atau dikejar-kejar oleh debt-collector karena terlibat hutang. Sebenarnya yang jelas hal ini terkait dengan profesi sang nyonya sebagai interior-designer. Jika ada rumah yang mempunyai prospek baik dan harga miring maka kami beli rumah tersebut dengan menjual rumah yang ditinggali. Setelah direnovasi dan ada orang yang mau beli dengan harga lebih dan ada rumah “bagus” yang akan dibeli maka terjadi lagi transaksi berganda, jual rumah yang sudah bagus dan beli rumah butut.
Dengan sebelas bersaudara, dapat dipastikan keluarga Musa menjadi suatu keluarga besar. Keponakan saya saja lebih dari 50 orang, terbilang cucu sudah 70 orang, malahan pada derajat cicit mungkin sudah lebih dari 10 orang. Dari sebelas bersaudara, tujuh orang sudah meninggal dunia, sehingga kami tinggal berempat saja. Dua orang yang paling sulung meninggal semasa bayi, demikian pula yang nomor lima. Dari yang hidupnya sampai dewasa dan tua, yang meninggal berturut-turut nomor empat yakni abang Ishak Musa, nomor tiga abang Ismail Musa, nomor sembilan abang Sofyan Musa dan nomor tujuh abang Iskandar Musa. Jadi yang masih hidup tinggal kakak Norma Musa alias Ibu Nindyo Kirono Hamengkubuwono IX, nomor enam dan satu-satunya yang wanita, nomor delapan abang Imran Musa, nomor sepuluh abang Ichsan Musa, dan saya yang nomor sebelas.
Dari saya sendiri anggota keluarga tambahan pun bermunculan. Anak tertua Reza Musa lahir pada tahun 1968, semasa saya bekerja di IBM dan sedang tugas ke Rumbai CPI. Anak yang kedua Armand Musa lahir pada tahun 1970, juga waktu masih di IBM. Sedangkan anak ketiga Meliza Musa lahir pada tahun 1972 semasa menjadi pimpinan PT PANSYSTEMS, dan sedang tugas studi di Perancis. Dari ketiga anak ini saya baru punya tiga orang cucu, yakni Nadine, Omar dan Audry. Cucu keempat insyaallah akan lahir awal tahun depan. Dan jadilah saya sekarang sebagai seorang kakek, yang kalau dalam logat orang Bangka disebut Atok. Yah, kalau dulu menjadi cucu kesayangan, sekarang mudah-mudahan saya bisa berperan sebagai seorang atok yang disayangi oleh cucu-cucunya.