Tuesday, March 24, 2009

Saran untuk KPK : PATUNG KORUPTOR

Saya terpanggil untuk ibadah Umroh menjelang puasa lalu, setelah 17 tahun tidak mengunjungi Tanah Suci. Agar terjadi sinerji antara ibadah dan penambahan wawasan, saya gabung rombongan Umroh yang via Istanbul Turki. Banyak perubahan yang terlihat di Arab sana, baik di Jeddah, Mekkah maupun Madinah, utamanya pembangunan fisik, sarana dan prasarana serta fasilitas ibadah. Mesjid Nabawi yang dulu masih dalam tahap konstruksi sekarang sudah terbangun megah. Jeddah dengan lingkungan pemukiman modernnya membawa perasaan kita seakan berada di belahan dunia lain. Mekkah juga banyak perkembangan, balad yang agak teratur, hotel mewah yang menjamur, tetapi seputar pasar seng masih tetap bersuasana amburadul. Walaupun Masjidil Haram menjadi semakin anggun, namun ada perasaan ruang tempat ibadah Tawaf seakan menjadi lebih sempit.
Sejalan dengan maksud utama kunjungan adalah niat ibadah maka sebagian besar waktu saya berada di dalam mesjid. Kalau di sini umumnya waktu sholat menunggu kita maka di sana kita yang selalu menunggu datangnya waktu sholat. Walaupun semua sholat sunnat dan wirid berkali-kalli dikerjakan, tetap saja masih tersisa waktu bagi tamu ALLAH ini. Nah, memanfaatkan waktu luang itu saya melakukan observasi lapaangan. Berdasarkan pengamatan saya, sekarang ini muncul fenomenon baru , yang saya sebut “mazhab tiang”. Ciri khas “mazhab” ini adalah posisi duduk pengikutnya yang selalu menyandar ke tiang-tiang mesjid ( yang memang banyak itu ), sambil mengetuk-ngetuk tombol HP untuk ber-sms (short-message-services) entah ke mana atau dengan siapa.
Kecuali menjaga dan menghormati kuburan Nabi Muhammad SAW dan beberapa sahabat, umumnya orang Arab kurang mengkultuskan kuburan. Ini terlihat dari penggunaan batu nisan yang seadanya atau malahan ditiadakan. Sebaliknya di Turki (kalau di Garut diplesetkan menjadi Turunan Kidul ), kuburan sangat diagung-agungkan dan disakralkan. Malahan mungkin lebih parah jika dibandingkan dengan “budaya” kita di sini. Bukan hanya kuburan tokoh-tokoh ternama yang seakan wajib dikunjungi, tetapi juga kuburan orang biasa pun menjadi objek wisata yang dibuat menarik. Patut disimak kesepakatan yang berlaku untuk menentukan jenis selebriti yang mendiami kuburan tersebut. Kepala nisan yang bersorban menunjukkan kuburan ulama atau tokoh agama, nisan dengan bunga mahkota menyatakan kelas bangsawan. Sedangkan untuk panglima perang nisannya menggunakan wujud topi perang. Sohib teman serombongan saya bergumam : “Wah, kalau di Indonesia kita perlu tambahan jenis kepala nisan, yakni kepala tikus untuk BIANG KORUPTOR!!!”. Saya sangat sepakat dengan ocehan tersebut namun agak sedikit tertegun, karena rasa-rasanya calon pemakainya memang sudah terlihat tanda-tandanya di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung ini.


*) DR. IR. H. ICHYAR MUSA S.E., M.M.

No comments:

Post a Comment